Apresiasi

Showing posts with label Rumpun PAUDNI. Show all posts
Showing posts with label Rumpun PAUDNI. Show all posts

Thursday, 18 June 2015

Lomba Kreativitas HAN Guru-Anak TK se Kabupaten Malang: Telaten, Kreatif, dan Bersemangat Tinggi

Unknown     10:47:00    
Lomba Kreativitas HAN Guru-Anak TK se Kabupaten Malang
KREATIF!: Peserta lomba kompetensi dan bina kreativitas anak-guru TK se Kabupaten Malang dalam rangka HAN 2015tampak telaten menunjukkan kemampuan. Berbagai karya kreatif dari tangan-tangan terampil mereka.

Ketelatean dan kreativitas guru TK juga tampak pada bidang lomba membuat APE yang dilangsungkan di pendopo kantor Dindik setempat. satu per satu, setiap peserta lomba ini membuat dan merangkai aneka bahan untuk menjadi alat peraga dan media pembelajaran. bahan yang digunakan adalah bekas kemasan makanan-minuman, kertas, dan tali.

Kepala IGTKI Kabupaten Malang Bunda Handariyati mengungkapkan, pada ajang lomba HAN Guru TK ini, juga dilombakan karya-karya kreatif guru yang lain. Yakni, membuat alat permainan edukatif bagi guru, serta mendongeng dan 3M melipat, menggunting dan menempel kertas (origami) bagi siswa TK. Para peserta terbaik yang menjadi juara selanjutkan akan mewakili kabupaten Malang di ajang lomba HAN tingkat Jawa Timur yang rencananya akan digelar awal Juni mendatang. (min)


Meneladani Semangat Anis Hurrotul Firdausi, Gambar Motif Batik Sambil Asuh Si Kecil

Unknown     10:46:00    
Meneladani Semangat Anis Hurrotul Firdausi

Sambil menggendong putra keduanya, Adam, yang masih berusia empat bulan, tangan seorang peserta dengan telaten dan sabar menggoreskan pensil warna untuk menebali motif gambar disain batik. Sesekali tangannya harus terhenti melukis, untuk sekadar menenangkan si kecil yang mungkin merasa kurang nyaman dalam gendongan atau ingin ASI ibunya.


Meneladani Semangat Anis Hurrotul Firdausi
Seperti itu lah ketelatenan Anis Hurrotul Firdausi, yang menjadi salah seorang peserta lomba disain batik pada lomba kompetensi dan bina kreativitas dalam rangka Hari Anak Nasional (HAN) guru TK se Kabupaten Malang yang dipusatkan di kantor Dinas Pendidikan (Dindik) Jl Penarukan 1 Kepanjen, Sabtu (16/5) lalu. Dengan bersusah payah, guru ini tetap bersemangat menyelesaikan disain motif batik hingga batas akhir waktu yang ditentukan.

Ya, hasil kerjaan Bunda Anis memang boleh dibilang lebih lambat dari peserta lain. Maklum saja, ia kerap harus terpecah konsentrasinya karena mengikuti lomba sambil membawa si kecil yang memang harus diajaknya. Ini karena si kecil tidak bisa ditinggal karena tidak mau meminum susu formula.

“Sudah dua jam masih belum kelar seluruh gambarnya, mas. Sudah tiga kali saya harus bolak-balik menyusui Adam yang awalnya bersama bapaknya,” terang guru TK PKK Arrahmah Pagelaran ini.

Soal motif bunga, Bunda Anis mengaku tidak begitu kesulitan menggambar. Namun, karena disain diharuskan menyertakan logo IGTKI, dibutuhkan konsentrasi lebih serius karena gambar harus simestri dan presisi.

“Sebenarnya, sebelum lomba ada workshop menggambar disain batik. Namun, Saya tidak ikut menjadi peserta. Saya hanya pandai menggambar,” aku ibu dua putra ini. anis pun mengaku hanya browsing gambar-gambar motif batik sederhana di internet untuk dijadikan referensi.

Selain Anis Hurrotul Firdausi, peserta lomba disain batik ini juga diikuti sejumlah peserta pendidik TK dengan usia muda, sekitar 20 tahun. Ada juga satu-satunya peserta laki-laki di bidang lomba ini, yakni Jatmiko dari TK Mutiara Cendekia kecamatan Pakis.

Furman Ali, salah seorang juri lomba disain batik mengungkapkan, tema disain adalah Batik khas Malangan dengan memasukkan unsur logo IGTKI. Hasil disain terbaik nantinya, kata Furman, akan dijadikan disain seragam batik yang akan dipakai guru TK se Kabupaten Malang. (Choirul Amin)


Thursday, 21 May 2015

Gemulai Tari Golek Malangan ala Pendidik PAUD

Unknown     21:08:00    
Gemulai Tari Golek Malangan ala Pendidik PAUD


Pendidik PAUD (Himpaudi) Kabupaten Malang punya kreasi tari baru. Namanya, tari Golek Malangan. Tarian ini sempat ditampilkan di sela-sela acara seminar nasional Kurikulum 2013 PAUD yang digelar dalam rangka ulang tahun HIMPAUDI Jawa Timur ke-10  yang digelar di Dome UMM, Maret lalu. Di hadapan sekitar 8.000 pendidik PAUD yang hadir, tarian ini secara gemulai dibawakan para pendidik PAUD asal kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Tarian Golek Malangan ini memodifikasi tari Beskalan asli Malang versi pendidik PAUD. Selain Golek Malangan, Himpaudi juga sudah mengkreasi tarian  tradisional lain dengan nama Tari Ogel-ogel. (Rop)

Asyiknya Kartinian dengan Karnaval dan Kreativitas Lomba

Unknown     21:04:00    
‘Kartini itu ya karnaval….’ Begitu jawab polos Annisa Kamil Zuhrufillah, siswi kelompok B, TK Dharma Wanita VIII Tegalsari, Kepanjen saat ditanya apa yang diketahui soal Kartini. Mengenakan kebaya mini warna kuning tua dan batik, Filla –begitu nanda biasa disapa, tampak sumringah di sekolahnya. Bersama teman-temannya, hari itu Selasa 21 April, Filla memang sedang mengikuti acara memperingati Hari Kartini dengan karnaval.

Ya, sosok Raden Ajeng Kartini sepertinya begitu melekat dan menginsiprasi anak dan perempuan di mana pun. Tak terkecuali siswa sekolah, yang pada 21 April ini, banyak melakukan aktivitas untuk merayakannya. Dengan berbusana tradisional khas Kebaya dan Jarik, serta blankon dan beskalan bagi siswa laki-laki, perayaan Kartini seperti sudah membudaya di lingkungan sekolah.

Asyiknya Kartinian dengan Karnaval dan Kreativitas Lomba


Pemandangan Kartinian ini bahkan sudah terlihat sehari sebelumnya. Beragam acara memperingati Kepahalawanan RA Kartini pun digelar. Mulai karnaval, pawai keliling, hingga lomba-lomba. Tak hanya siswa dan guru, para orang tua pun larut dalam perayaan ini. Mereka tumplek-blek memadati sekolah tempat diselenggarakan perayaan. Sebagian dengan dandanan khas Kebaya.

Seperti yang dilakukan TK Pembina Kepanjen, Senin (20/4) lalu, yang mengajak siswa-siswinya berpawai sepanjang jalan protocol di wilayah Kepanjen. Mereka berpawai dengan menaiki sejumlah becak dan dokar yang sudah dihias sedemikian rupa layaknya karnaval.

Perayaan Kartinian juga dilangsungkan dengan karnaval berjalan kaki oleh siswa-siswi SDN Kepanjen 03 dan SDN Penarukan Kepanjen pada Selasa (21/4). Dengan busana tradisional masing-masing, para siswa tampak tak mempedulikan rasa kikuk berjalan dengan pakaian yang bukan seragam sekolah seperti sehari-harinya.

Perayaan Kartinian juga tampak di halaman SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi, Kabupaten Malang. Ratusan Siswa kelas X dan sejumlah guru SMK Mutu berbusana Kebaya larut dalam keceriaan permainan tradisional tempo doeloe untuk merayakan Hari Kartini yang jatuh pada hari itu. Suasana tampak begitu riuh dan gembira. 

“Sehari refreshing dengan kegiatan perayaan lomba-lomba tradisional. Apalagi selama ini kami begitu padatnya kegiatan sekolah. Ide acaranya spontan saja, mas,” kata Farida Marwiya ketua panitia kegiatan.

Menurut Ida, meski dirayakan dengan lomba permainan, bukan berarti Kartinian ini asal saja dan tanpa makna. Muatan edukasi dan makna keteladan tetap menjadi tujuan digelarnya kegiatan ini. Menurutnya, jangan sampai hal-hal kodrati perempuan menjadi terpinggirkan karena terlalu mengejar karir dan pekerjaan. Motivasi lain juga diselipkan dalam perayaan Kartinian ini. Dengan berlomba menjadi pemenang, katanya, bisa memaknai kegigihan Kartini dalam memperjuangkan diri meraih pendidikan yang setara dengan laki-laki pada jamanya. (min)

Wajib Terapkan 2016, IGTKI Intens Pembinaan K-13

Unknown     20:54:00    
Pasca sosialisasi secara masal awal Maret lalu, penerapan Kurikulum 2013 untuk PAUD terus dimatangkan dan disiapkan. Ini dilakukan dengan melakukan pembinaan secara langsung kepada seluru lembaga PAUD dan TK yang ada. Apalagi, 2016 mendatang, seluruh lembaga PAUD dan TK harus menerapkan kurikulum seperti diharuskan dalam Permendikbud 160 Tahun 2014 ini.

Wajib Terapkan 2016, IGTKI Intens Pembinaan K-13


Seperti dilakukan IGTKI Kabupaten Malang, yang selama April ini menggelar pembinaan implementasi K-13 setidaknya di tujuh titik wilayah kecamatan. Yakni, kecamatan Dampit, Tumpang, Ngajum, Bantur, Kromengan, Bululawang dan Kepanjen.

Berita Lainnya:

Ketua IGTKI Kabupaten Malang Handariyati mengungkapkan, hingga bulan April ini telah diprogramkan pembinaan Kuikulum 2013 di sepuluh titik. Pembinaan mencakup penyusunan program pembelajaran sesuai muatan kurikulum baru ini.

Hanya, Handariyati menyebut tidak semua lembaga TK bisa menyertakan seluruh pendidiknya mengikuti pelatihan dan bimbingan teknis. Jumlah lembaga TK se Kabupaten Malang adalah 959 lembaga dengan jumlah pendidik setidaknya 4.041 orang.

“Pembinaan belum bisa diikuti semua pendidik. Ada beberapa lembaga yang hanya mengikutserkan sejumlah guru untuk perwakilan saja,” terangnya dalam sebuah kesempatan. (min)

Bupati Malang Lantik 324 Bunda PAUD

Unknown     20:41:00    
Peringatan Hari Kesatuan Gerak (HKG) PKK digelar di Pendapa Agung Kabupaten Malang, Kamis (2/4). Momentum peringatan HKG ini, sekaligus dimanfaatkan untuk melantik 324 Bunda PAUD di Kabupaten Malang.

Bupati Malang Lantik 324 Bunda PAUD


Ketua tim penggerak PKK yang juga istri bupati Malang Rendra Kresna, Jajuk Sulistyowati dipercaya menjadi Bunda PAUD Kabupaten Malang. Selain itu, ada 33 Bunda PAUD kecamatan, serta 278 Bunda PAUD tingkat desa, dan 12 bunda PAUD Kelurahan yang dilantik.

Pelantikan Bunda PAUD, secara simbolis dilakukan oleh Rendra dengan menyematkan pin kepada Jajuk. Dalam sambutannya, Rendra berharap peran Bunda PAUD untuk bisa mendidik anak bangsa. Dia pun mengingatkan bahwa bunda PAUD sejatinya tidak sebatas pada 324 orang yang dilantik hari itu. Karena, katanya, para ibu sejatinya adalah Bunda PAUD.

Sementara itu Jajuk mengatakan, Bunda PAUD memiliki tanggung jawab besar untuk mendidik anak-anak. Yakni, bagaimana mampu memberikan yang terbaik untuk anak usia dini.

Meski begitu, Jajuk berharap Bunda PAUD tidak sampai merasa terbebani. “Saya harap, Bunda PAUD bisa berperan sebagai bunda yang sebenarnya. Sabar, disegani, dan pintar,”ujar dia.

Selain pelantikan Bunda PAUD acara dipendopo juga diwarnai dengan penampilan kesenian dari siswa-siswi TK dan PAUD di Kabupaten Malang. Ada yang menampilkan kesenian kuda lumping, paduan suara, hingga ludruk. (Rop)

Tuesday, 17 March 2015

SKB Kab. Malang: Gelar In-House Training Paket-C Ketiga

Unknown     15:48:00    
Dua kelompok anak usia belasan tahun tampak duduk bergerombol sambil lesehan di sebuah aula terbuka yang ada di sudut komplek UPT Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kabupaten Malang, Senin (24/11) siang. Mereka tampak berdiskusi dan memperhatikan dua orang yang tampak tengah menjelaskan sesuatu. Sesekali tampak terlihat interaksi dan diskusi kelompok ini.

Seperti itu lah gambaran salah satu kegiatan yang digelar di UPT SKB Kabupaten Malang. Mereka adalah tutor dan peserta didik program pendidikan kesetaraan Paket-B setara SMP yang tengah melangsungkan kegiatan belajar-mengajar. Selama ini, program Paket B dan C menjadi kegiatan reguler yang diselenggarakan UPT SKB Kabupaten Malang. Program reguler lainnya adalah penyelenggaraan PAUD Pelangi berbentuk kelompok bermain.

Hari itu, SKB Kabupaten Malang juga tengah menyelenggarakan kegiatan in-house training (IHT) bagi tutor paket C. Tahun ini, selain menyelenggarakan kegiatan orientasai Saka Widya Budaya Bakti (SWBB), SKB Kabupaten Malang juga menyelenggarakan kegiatan training tersebut. IHT Paket-C ini diikuti 43 peserta yang berasal dari 13 PKBM se Kabupaten Malang. In-house training tutor Paket-C ini digelar empat kali, pada tanggal 8, 10-11, dan 24 November.

Kepala UPT SKB Kabupaten Malang Bambang Hari Susanto MPd mengungkapkan, IHT bertujuan memberikan pengayaan dan penguatan tutor terkait standarisasi penyelenggaraan Paket-C sesuai tuntutan kurikulum yang berlaku agar mereka memiliki kompetensi pedagogik yang tepat.  Tutor paket C, katanya, harus memiliki kompetensi seperti yang diharuskan dalam standar proses dan tuntutan kurikulum. Materi lainnya adalah menghitung beban mengajar dan prosedur pembelajaran secara tutorial.

 
"Tutor harus bisa melaksanakan pembelajaran hingga penilaian dengan benar. Mulai dari penyusunan silabus dan rencana pembelajaran, proses, hingga penilaian,” demikian Hari Susanto ditemui di ruang kerjanya.

Bambang HS mengungkapkan, IHT tahun ini adalah kali ketiga yang digelar SKB Kabupaten Malang. Dua tahun sebelumnya, kegiatan serupa diselenggarakan dengan jumlah peseta 60 orang.  Namun begitu, katanya, kegiatan yang sudah diselenggarakan ini belum bisa mengcover dan mengikutsertakan semua tutor Paket-C se Kabupaten Malang. Jumlah PKBM yang menyelenggarakan program Paket B/C seluruhnya adalah 49 lembaga.

Terpisah, Drs. Sukarno, M,Sc, pengawas Sekmen Dinas Pendidikan yang menjadi narasumber IHT Paket C mengungkapkan, tuntutan pembelajaran Paket C sama dengan yang diterapkan pada pendidikan formal (SMA). Namun, katanya, dalam praktinya, maksimal hanya 70 persen saja dari tunttan kurikulum yang bisa terpenuhi melalui pembelajaran klasikal tatap muka.

"Selebihnya terpenuhi dari model pembelajaran tutorial dan mandiri. Pembelajaran ini harus dilengkapi dengan bahan ajar modul yang harus dibuat tutor,” kata Sukarno. (min)

UPT SKB Kab. Malang Berdayakan Warga: Jadi Fasilitator Unggulan Empat Desa Binaan

Unknown     15:45:00    
Keberadaan lembaga Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) memiliki peran dan fungsi cukup strategis. lembaga ini dibentuk dengan fungsi sebagai data center, peningkatan kompetensi pendidik pendidikan nonformal, serta pengembangan model pembelajaran untuk pemberdayaan masyarakat.
Tak terkecuali, selama ini fungsi tersebut telah dijalankan UPT SKB Kabupaten Malang dengan baik. Program Paket B setara SMP dan Paket C setara SMA menjadi kegiatan regulEr yang diselenggarakan UPT SKB Kabupaten Malang. Program reguler lainnya adalah penyelenggaraan PAUD Pelangi.

Selebihnya, selama setidaknya lima tahun terakhir, UPT SKB Kabupaten Malang telah menjadi fasilitator yang bisa diandalkan kegiatan pemberdayaan dan pengembangan ekonomi berbasis masyarakat pedesaan. Melalui setidaknya empat program, SKB Kabupaten Malang mereplikasi model yang dilangsungkan pada setidaknya empat desa yang ada empat kecamatan di wilayah kabupaten Malang. 

Kepala UPT SKB Kabupaten Malang Dr. Bambang Hari Susanto, MPd mengungkapkan, fasilitasi program kewirausahaan bagi masyarakat paling awal dilakukan di dua desa bagi kelompok keluarga kurang mampu. Yakni, Desa Mendalanwangi kecamatan Wagir dan dusun Maguan, Talangagung, Kepanjen. Sejak 2009, SKB Kabupaten Malang mengembangkan program kewirausahaan desa binaan berupa budidaya jamur tiram dan olahan pascapanen di Desa Mendalanwangi. Sementara, prgoram budidaya lainnya adalah budidaya ikan air tawar di Talangagung Kepanjen.

Keduanya, kata Bambang HS, kini tetap eksis dan terus berkembang. Bahkan, yang budidaya ikan air tawar kini berkembang pesat menjadi kolam pemancingan dan pusat kuliner ikan segar terkenal. Awalnya hanya mengelola dua kolam, kini sudah berkembang menjadi 13 kolam dengan omzet bisa mencapai Rp 4-5 juta setia harinya.

Dua tahun terakhir, UPT SKB Kabupaten Malang juga teleh menyelenggarakan program replikasi Rumah Usaha Serumpun (RUS). Dalam program ini, fasilitator SKB Kabupaten Malang memberi pendampingan kepada sekelompok warga dari Desa Senggreng, kecamatan Sumberpucung. Kelompok warga ini belajar dan menjalankan sejumlah usaha kelompok. Diantaranya, produksi alat-alat dapur, krupuk rengginang, asesoris dan hantaran, pupuk organik, kerajinan wayang kulit, dan sanitair.

Kini, tiap kelompok telah mampu menjalankan kelompok usaha mandiri dan mampu melakukan kegiatan produksi secara rutin. Beberapa bahkan telah mendapatkan mitra kerjasama seperti pembuatan pupuk organik dengan Semen Gresik.

Sementara itu, tambah Bambang Hari, pada 2013 lalu program kewirausahaan masyarakat yang dijalankan adalah pembuatan organik untuk pupuk dan pakan hasil fermentasi. (min)

Wednesday, 14 January 2015

PKBM Aksara Cendekia Gelar Gebyar Aksara

Unknown     21:01:00    
Halaman sekretariat pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM) Aksara Cendekia Kepanjen dipenuhi warga Kepanjen, pekan lalu. Ragam kegiatan digelar selama sehari itu dan diikuti peserta dari berbagai usia. Diantaranya, lomba-lomba kepustakaan dan permainan edukatif.

Kegiatan yang digelar PKBM Aksara Cendekia ini bertema Gebyar Aksara 2013. Agar menarik, pihak panitia gebyar mengemas acara dengan menambahkan berbagai kegiatan. Seperti mengajak peserta bermain sulap dan memberi hiburan permainan musik biola dan nonton bareng. 

Ketua PKBM Aksara Cendekia Diah Nur Robbaniah mengatakan, even Gebyar Aksara yang digelar ini bertujuan untuk meningkatkan minat baca masyarakat Kepanjen. Apalagi, PKBM juga memiliki taman baca ‘Sanggar Wacana’ yang menyediakan berbagai koleksi bacaan untuk menambah wawasan pengetahuan dan keterampilan warga. 

“Warga sekitar memang harus diberdayakan. Salah satunya dengan banyak diberi wawasan dan bahan keterampilan. Gebyar Aksara ini sengaja untuk meramaikan kegiatan peningkatan minat baca juga,” demikian Diah Nur di sela-sela acara gebyar. 

Dalam lomba kepustakaan yang digelar Taman Baca Sanggar Wacana ini, kata ia, yang dilombakan adalah merangkum dan menceritakan kembali bacaan yang dibaca. Dengan waktu tidak kurang dari satu jam, puluhan peserta yang didominasi siswa SD-SMP ini diharuskan membaca buku cerita. Mereka bebas memilih buku-buku cerita yang tersedia di TBM milik PKBM Aksara Cendekia. Selain mendapatkan hadia alat belajar, peserta terbaik juga mendapatkan hadiah uang. 

Bagi orang dewasa yang mengantarkan anak-anaknya mengikuti lomba, mereka juga bebas membaca dan meminjam buku-buku koleksi seperti buku kesehatan, kuliner, dan keterampilan. Agar tidak jenuh, sebelum lomba juga digelar pemeriksaan dan pengobatan gratis bagi warga masyarakat dewasa. Kegiatan ini bekerja sama dengan Stikes Kepanjen yang kebetulan menjadikan PKBM sebagai mitra sasaran pengabdian masyarakat hingga beberapa tahun mendatang. (Majalah Warta Aksara/Edisi 1)

Gebyar PAUDNI Ramaikan HAI 2014

Unknown     20:57:00    
Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, peringatan Hari Aksara Internasional (HAI) 2014 juga diisi dengan sejumlah kegiatan. Salah satunya kegiatan Gebyar PAUD yang menghadirkan seribu anak-anak PAUD se-Sulawesi Selatan. Dengan berseragam aneka warna, mereka hadir di Alun-alun MTQ, Kendari, Sulawesi Tenggara, Sabtu (19/9/2014) dengan keceriaan dan kreativitas.

Selain bernyanyi bersama, anak-anak PAUD juga bermain beragam jenis mainan, seperti menyusun balok, melipat dan menggunting kertas, bermain pasir, meronce, menggambar, menghias celengan, serta kolase membuat ape dari bahan bekas. Mereka juga diajak untuk bergerak lincah melalui tari dari lagu yang diperdengarkan.

Setelah dibuka secara resmi oleh Plt. Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Hamid Muhammad, seribu anak-anak PAUD menyuguhkan gerak dan lagu. Terlihat kelincahan anak-anak PAUD bergerak dan menari dengan dipandu tiga buah lagu.

Usai menari, tepukan tangan meriah dari para hadirin yang menyaksikan kelucuan tingkah anak-anak PAUD yang tergabung dalam TK Kuncup binaan Bunda PAUD Provinsi Sulawesi Tenggara.
Sebagai bagian akhir dari kegiatan Gebyar PAUD, Hamid beserta istri didampingi Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara dan istri, serta para pejabat lainnya menyapa langsung anak-anak PAUD yang sedang beraktivitas di sentra bermain anak PAUD. (Majalah Warta Aksara/Edisi 1)

Mengandalkan Sumbangan Pecahan Dua Ribu Perak, PAUD Khadijah Layani Pendidikan Anak Desa

Unknown     20:55:00    
Senin (26/08) pagi, puluhan anak didampingi orang tuanya tampak hilir mudik keluar masuk ruang belajar. Sebuah kotak dari kaleng bekas biskuit tampak teronggok di atas kursi dekat pintu masuk PAUD Khadijah, Tegalsari Kepanjen, Kabupaten Malang Jawa Timur,. Setiap sebelum dan usai pembelajaran, kaleng ini diisi uang pecahan Rp 1.000 hingga Rp 2.000 oleh wali murid yang kebetulan ikut menunggui anaknya belajar sambil bermain di PAUD ini. Sesekali sang anak sendiri yang diajari untuk memasukkan uang sumbangan ke kotak tersebut.
 
Pemandangan ini terjadi hampir setiap kali pembelajaran di PAUD Khadijah yang dilaksanakan tiga kali sepekan, setiap Senin, Rabu, dan Sabtu. Ya, berada di tengah masyarakat pedesaan, menyelanggarakan pendidikan PAUD secara ideal masih sulit dilakukan. Jangankan bisa menarik biaya SPP mahal, untuk mendapati kesadaran orang tua menitipkan anaknya ke lembaga PAUD ini sulit terjadi.

PAUD Khadijah didirikan pada pada 2007 silam. Tahun-tahun awal diselenggarakan PAUD ini, kisah perjuangan pengelola begitu berat. Saking kurang diminatinya oleh warga, pernah PAUD ini hanya memiliki satu siswa.
“Awal merintis, pendidik harus mendatangi tempat-tempat posyandu dengan membawa alat permainan seadanya. Kami keliling sepekan sekali untuk memberi layanan PAUD dan menarik masyarakat,” kenang Isti Chorida (42), tutor PAUD Khadijah, yang sejak awal turut membidani berdirinya PAUD ini.

Selama lima tahun, sejak awal diselenggarakan hingga tahun 2012 lalu, PAUD  ini hanya bermodalkan sumbangan kas Rp 1.000 per siswa setiap kali masuk. Uang sumbangan wali murid yang tidak ajeg didapatkan jumlahnya dipakai untuk membiaya seluruh kebutuhan operasional PAUD, termasuk membayar tiga orang pendidiknya.

Selama kurun waktu itu, jumlah anak didik PAUD Khadijah mengalami pasang surut, terbanyak tidak lebih dari 20 anak. Namun, alih-alih memberikan layanan pendidikan lebih baik dengan menerapkan iuran SPP wajib sejumlah Rp 2.000, yang terjadi justru memprihatinkan. Karena enggan membayar iuran wajib ini, jumlah anak didik sempat berkurang hingga tidak lebih dari enam anak.
“Kami sempat mau buyar pada 2008, karena tidak ada kas keuangan sama sekali. Kesadaran masyarakat juga rendah untuk menitipkan anaknya. Namun, niatan untuk memberi pendidikan anak lebih besar, sehingga bertahan hingga sekarang,” ungkap pendidik yang hanya lulusan SMEA ini.

Ya, keteguhan pengabdian Isti Chorida memang bukan isapan jempol. Selama empat tahun sejak awal mendidik, ia dan dua temannya hanya mendapatkan honor sebesar Rp 50.000 per bulan. Honor ini lah yang secara pasti diperolehnya tiap bulan dari jerih payahnya mendidik anak di PAUD bentukan PKK Desa Tegalsari, Kepanjen ini. kalau pun ada bantuan insentif dari pemerintah, ia sulit mendapatkannya karena harus bersaing dengan ribuan pendidik PAUD lainnya.

Lain halnya dengan beberapa teman sejawatnya. Sempat berulang kali sejumlah tiga pendidik tidak betah dan mengundurkan karena merasa tidak dapat penghasilan yang layak. Beruntung, selama dua tahun terakhir, Isti Chorida memang mendapatkan honor dari sumber lain, yang diterimanya setahun sekali. Ia pernah mendapatkan tambahan transpor dari bantuan Alokasi Dana Desa (ADD) sebesar Rp 500 ribu, namun tetap harus dibaginya menjadi tiga untuk pendidik lain.

Dalam kondisi dukungan keuangan sangat terbatas, banyak yang terpaksa tidak bisa dipenuhi PAUD Khadijah. Diantaranya, pengelola memilih tidak aktif dalam berbagai kegiatan Himppaudi selama dua tahun lebih karena tidak mampu membayar iuran. Dengan jumlah anak didik sangat sedikit dan hanya mengandalkan sumbangan wali murid, berat bagi pengelola PAUD ini untuk membayar iuran yang harus dibayarkan sejumlah anak didik dan pendidiknya kepada Himppaudi.

Ketersediaan alat permainan edukatif (APE) menjadi keterbatasan lain yang dimiliki PAUD Khadijah. Jumlah mainan sangat terbatas. Sebagian APE terpaksa dibuat sendiri oleh pengelola, seperti mainan balok. Alat jungkat-jungkit dari potongan ban bekas kendaraan besar juga tampak teronggok seadanya dan digunakan anak bermain.

“Kami buat sendiri balok kayu karena tidak mampu beli. Tetapi, ukuran dan bentuknya kurang standar seperti pada umumnya,” terang ibu dengan empat anak ini. Ruang belajar anak juga tidak kalah memprihatinkan. Selama lima tahun terakhir, pembelajaran menempati ruangan aula dengan lantai masih ubin kantor desa setempat yang umur bangunannya sudah tua. Beberapa tahun awal, anak belajar sambil bermain hanya beralaskan karpet tanpa meja belajar yang memadai.

Dua bulan terakhir, PAUD Khadijah harus diungsikan sementara ke ruang perpustakaan desa karena kondisi atap ruang semula banyak yang rapuh kayu penahannya. Ruangan perpustakaan berukuran 3 x 5 meter persegi ini harus disekat menjadi dua hanya dengan rak mainan. Bangunan lama khawatir mau ambruk. Atap banyak yang keropos. Kesalamatan anak didik kami khawatirkan,” tambah Bunda Rida.

Karena keterbatasan ruang ini, APE luar terpaksa harus disimpan di dalam ruang lama karena tidak tidak ada tempatnya. Halaman PAUD ini langsung berbatasan dengan akses jalan menuju sebuah sekolah dasar.
Setahun terakhir, kesejahteraan pendidik PAUD Khadijah lebih meningkat dengan mendapatkan honor Rp 100 ribu tiap bulan. Ini setelah kas masuk bisa dinaikkan menjadi Rp 2.000 per siswa tiap kali datang. Sekali sepekan, dari uang kas yang masuk juga bisa dibelikan untuk menambah mainan anak didik, termasuk untuk jajanan.

“Paguyuban walimurid sudah bisa diberdayakan dengan iuran tambahan. Sekarang masyarakat mulai menyadari pentingnya PAUD sebagai dasar pendidikan selanjutnya,” demikian Isti Chorida.(Majalah Warta Aksara/Edisi 1)

About us

GRAHA AKSARA CENDEKIA Jl. Sawo (Timur Stadion Kanjuruhan) Kepanjen Malang Email: cendekia.redaksi@gmail.com Website: www.majalahcendekia.com

FAQ's

FAQ's

© 2011-2014 Majalah Cendekia. Designed by Bloggertheme9.